Selasa, 08 Agustus 2017

Kerja Paruh Waktu Dan Istilah 'Gambling' Pada Mahasiswa


Mempunyai kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi tentu menjadi kebanggaan dan keberuntungan tersendiri, mengingat tingginya biaya kuliah dan ketatnya seleksi masuk ke perguruan tinggi negeri. Orang-orang yang berhasil menyandang nama mahasiswa pun seolah-olah diberi tempat khusus di mata masyarakat.

“Oh! Inilah calon penerus bangsa kita!” kata mereka.

Dengan memegang prinsip ‘pendidikan adalah investasi jangka panjang’ tentu kalimat tersebut bukanlah ungkapan yang salah. Orang-orang yang memegang ijazah SMA atau SMP bahkan SD sekalipun tidak menutup kemungkinan untuk bisa sukses dikemudian hari. Namun dalam dunia kerja, memang, nama sarjana lebih dipertimbangkan ketimbang lulusan SMA/SMK. Tapi tetap kembali lagi ke awal, tergantung pada yang digantung, pekerjaan macam apakah itu? Selalu ada tempat dimana pengalaman dan kemampuan lebih dipertimbangkan ketimbang beberapa angka di secarik kertas bernama ijazah.

Oke, lanjut. Sebagai salah satu orang yang menyandang nama ‘mahasiswa’, entah kenapa aku merasa orang-orang seperti segan ketika berbicara denganku.

“Kamu lagi sibuk apa, dek? Kerjakah?”

“Aku kuliah, kak.”

“Oh! Kuliah dimana?”

“Di Untan, kak.”

“Oh! Jurusan apa?”

“Sosiologi, FISIP, kak.”

“Oh iya iya. Keponakan kakak juga ada yang kuliah di Untan. Dari Sintang dia.”  dan bla bla bla bla. Kemudian si Kakak pun melanjutkan meng-creambath rambutku sembari bercerita.

Namun nama mahasiswa juga menjadi sebuah tanggung jawab bagiku. Tentu saja aku tidak mau seseorang berkata “ah, masa mahasiswa kelakuannya seperti itu” dengan nada mencela. “Katanya mahasiswa?” dlsb.

Dengan nama mahasiswa yang orang-orang sepertiku bawa, aku merasa sedikit beruntung. Tentu dalam urusan melamar kerja, status mahasiswa ini akan menjadi pertimbangan perusahaan, pikirku. Namun ternyata, ada cerita tersendiri di balik nama mahasiswa dari sudut pandang dunia kerja paruh waktu.

Pengalaman ini aku dapatkan ketika aku menemani pacarku melamar kerja ke banyak restoran. Ia baru saja berhenti dari pekerjaan sebelumnya yang sudah ia jalani selama tiga tahun, dan sekarang ia sedang memulai awal yang baru. Dengan rasa percaya diri yang besar akan diterima bekerja, kami pun menaruh lamaran di tiga tempat sekaligus. Bahkan malam harinya kami sudah mendiskusikan bagaimana jika ia diterima diketiga tempat dan diminta datang untuk diwawancara sekaligus, mana tempat yang akan dia pilih? Seperti itu.

Namun hasilnya nihil. Sampai tiga hari ke depan kami tidak menerima panggilan satu pun. Kami pun mencoba untuk berpikiran positif, mungkin lowongannya sudah terisi dan kami terlambat mengantar lamaran tersebut.

Tidak putus asa, kami pun kembali menaruh lamar, kali ini di dua tempat sekaligus. Untungnya satu dari dua lamaran itu memberikan kesempatan. Schatz, pacarku, diterima bekerja di salah satu restoran, sebut saja Restoran A+. Namun ia diminta untuk bersedia di-training dulu selama seminggu dan ia tidak keberatan.

Empat hari bekerja dan ia bisa dibilang sudah bekerja dengan status koki, bukan lagi sebagai pegawai baru yang masih di-training. Keadaan Restoran A+ sangat santai saat sore hari, namun langsung mendadak sibuk di malam hari hingga tengah malam setiap harinya. Setiap malamnya kurang lebih delapan karung beras habis setiap harinya. Benar benar sibuk! Memasak jadi seperti medan pertempuran saja.

Namun efek dari jam kerja paruh waktu yang diambilnya mulai terasa. Sebenarnya ia mendapatkan shift ketiga yaitu bekerja mulai dari jam 12 malam hingga jam 7 pagi, sedangkan jam 8 paginya Schatz harus kuliah. Bahkan saat hari pertama bekerja, ia diminta harus sudah datang sejak jam 3 sore. Akhirnya setelah kurang lebih selama seminggu bekerja ia pun mengundurkan diri. Dan kami mulai fokus untuk mencari pekerjaan baru lagi.

Karena sempat diterima di salah satu restoran terkenal, kami jadi semakin percaya diri untuk melamar pekerjaan di tempat berikutnya.

Saat itu kami kembali menaruh lamaran ke dua tempat secara bersamaan. Setelah dua hari kami lewati tanpa panggilan, kami kembali menaruh lamaran di enam restoran sekaligus! Dan sayangnya, tiga hari juga telahberlalu tanpa panggilan satu pun. Bahkan kami menunggu hingga seminggu dan tetap tidak ada satu pun restoran yang memanggil.

Aku pun mulai curiga. Apa yang menghambat diterimanya Schatz di restoran-restoran yang membuka lowongan itu? Bukankah jika mereka sampai membuka lowongan berarti ada tempat kosong yang harus diisi? Apa surat lamaran Schatz salah? Atau ada yang salah dengan format daftar riwayat hidupnya? Apa karena ia laki-laki yang berambut panjang? Aku harus memintanya untuk memotong rambut jika itu adalah alasannya karena situasi kali ini taruhannya adalah tidak bisa membayar SPP semester depan.

Dan pertanyaan itu pun muncul. ‘Padahal Schatz adalah seorang mahasiswa, calon sarjana, kenapa ia malah sulit diterima kerja paruh waktu?’. Memang ada beberapa tempat yang tidak menyediakan pilihan untuk bisa bekerja hanya di shift sore saja. Jadi, apa nama mahasiswa yang dibawa Schatz ini justru memberatkannya dalam mencari kerja? Apa Schatz harus cuti kuliah untuk fokus bekerja dulu sekarang ini?

Akhirnya aku mencoba melakukan penelitian yang konyol. Aku mulai mempelajari salah satu akun lowongan kerja online yang ada di jejaring sosial facebook. Disana aku mengamati bagaimana cara orang-orang yang mencari pekerjaan dan bagaimana orang-orang yang menawarkan pekerjaan.

Setelah aku simpulkan secara ajaib, rata-rata yang mencari pekerjaan di grup online ini adalah orang yang memegang ijazah SD hingga SMA/SMK, bahkan ada yang tidak memiliki KTP dan beralasan jika ijazahnya hilang. Sedikit dan jarang sekali yang mengatasnamakan mahasiswa.

Kemudian ketika Schatz langsung menghubungi sang atasan ataupun orang yang menaruh nomor telfonnya di situs online tersebut, aku melihat perbedaan disaat Schatz belum menyebutkan bahwa dia masih berstatus aktif kuliah dan sesudah menyebutkan masih berstatus aktif kuliah. Ada beberapa kecanggungan yang terjadi dalam percakapan itu. Semua percakapan dengan sang atasan kebanyakan bersifat antusias sebelum Schatz mengatakan bahwa ia adalah mahasiswa aktif.

Mereka selalu mengawali wawancara dengan pertanyaan ‘sudah bekerja berapa lama sebagai koki? Di restoran mana saja? Pengalamannya pernah manyajikan menu apa saja? Bisa masak makanan apa saja? Bisa ngga hidangan chinese, western, nusantara, hidangan Korea atau  Jepang? Apa siap jika harus di tes atau training terlebih dahulu?’. Selalu begitu, pertanyaan yang sama.

Dan pertanyaan terakhir yang keluar adalah ‘sekarang sedang sibuk apa?’ yang akan dijawab Schatz dengan kalimat ‘saya masih kuliah dari pagi hingga sore’. Kemudian percakapan ini berakhir dengan sebuah kesunyian sejenak. Sangat terasa. Hanya saja Schatz terlalu takut untuk menyadarinya.

Dan jawaban terakhir dari Schatz itu selalu menuntunnya ke kalimat ‘oh oke, akan kami pertimbangkan. Nanti kamu akan kami hubungi lagi’. Dan kami tidak akan menerima panggilan apapun setelah percakapan itu berakhir. Selalu begitu, jawaban yang sama, akhir yang sama.

Aku pun semakin yakin bahwa nama mahasiswa yang Schatz sandang menjadi pemberat dalam perjalanannya mencari pekerjaan paruh waktu di restoran. Lalu aku ingat bahwa aku mempunyai teman saat SMA yang keluarganya mempunyai bisnis yang bergerak dalam bidang kuliner. Ia sedang berdomisili di Bandung saat itu untuk melanjutkan kuliah disana. Aku pun bertanya padanya via Line. Sebut saja dia Jonn. Aku pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan.

“Jonn, apakah bekerja di restoran itu benar-benar menggunakan sistem shift?” karena sepengalamanku mencari pekerjaan bersama Schatz selama sebulan ini, ketika Schatz mendaftar ke shift sore, kami berakhir dengan tidak menerima panggilan apapun dari restoran terkait.

Ada yang pakai, ada yang tidak. Tergantung kebijakan tempatnya”. Jonn menjawab dengan sangat singkat dan padat. Maksudnya disini adalah sistem shift itu pasti ada karena manusia bukan robot yang bisa bekerja 16 jam tanpa henti, tapi tidak semua restoran memberi kebebasan pada karyawannya untuk bisa memilih bekerja di shift pagi saja atau di shift sore saja. Jawaban yang cukup, dan menimbulkan pertanyaan lain dalam benakku.

Apakah status seorang pelamar sebagai mahasiswa yang masih aktif kuliah akan menghambat kemungkinan pelamar untuk diterima bekerja?” tanyaku lagi.

Dan jawabannya cukup mengejutkan.

Jonn menjawab, “ohh benar sekali, Risgaan. Kemarin banyak juga mahasiswa yang kuliah sambil bekerja di tempatku. Dan aku perhatikan hasil kerja mereka kurang efektif dibanding karyawan yang benar-benar memiliki waktu free hanya untuk bekerja. Jadi sekarang bukan hanya tempatku saja, restoran lain pun memiliki kemungkinan 50:50 untuk menerima mahasiswa yang masih aktif kuliah”.

Oh ternyata seperti itu! Percayalah, aku sangat memahaminya, Jonn. Jadi, kira-kira apa yang menyebabkan pekerjaan mereka kurang efektif? Apa karena mereka hanya bisa menempati satu shift sehingga tidak bisa mengisi shift lain jika terjadi berubahan jadwal kerja?”.

Masalahnya ada pada waktu, Gan. Kegiatan mahasiswa ‘kan tidak bisa kita bilang stabil waktunya. Terkadang ada kegiatan mendadak, atau kehadirannya dibutuhkan di kampus ‘sebentar’, atau ada dosen yang minta pindah jadwal/jam yang bergesekan dengan waktu kerja, dan masih banyak lagi. Sedangkan kehadiran mahasiswa ini sangat dibutuhkan di tempat kerjanya saat itu. Itulah kenapa restoran-restoran akan berfikir berali-kali untuk menerima mahasiswa.”

Aku pun mulai memahami penjelasannya. Karena selama Schatz bekerja di Restoran A+, dimana keadaan restoran itu selalu ramai setiap malam harinya. Dan Schatz pernah tidak hadir satu malam saja karena ada urusan kampus, hal itu berakibat pada kinerja dan nama baik restoran tersebut. Sistem shift menjadi kacau, harus ada pegawai shift pagi yang datang menutup kekosongan tempat Schatz di shift malam. Jika tidak begitu, restoran akan kekurangan pegawai dan usaha untuk melayani pelanggan tidak akan berjalan maksimal dan berkemungkinan besar mendapat kritikan dari konsumen. Sebenarnya ketidakhadiran Schatz tidak akan menjadi masalah besar jika terjadi di restoran kecil, karena jika ada pemberitahuan sejak awal, sang pemimpin tentu bisa menangani hal tersebut dengan langsung menempatkan bawahannya disana. Namun karena Restoran A+ adalah restoran besar dan sangat sibuk pada malam hari, ketidakhadiran Schatz seolah menjadi lubang pengganggu yang harus dilewati pegawai-pegawai lain sembari melayani palanggan sampai hari itu selesai.

“Intinya adalah waktu”, Jonn menambahkan. “Memang susah mencari orang yang sepintar mahasiswa tapi memiliki waktu sebebas orang yang tidak kuliah. Masalahnya bukan pada kebijakan restoran yang rumit atau pada mahasiswa yang waktunya tidak bisa diprediksi. Mahasiswa memiliki hak untuk kuliah dan bekerja sekaligus. Tapi masalah sebenarnya ada pada kebutuhan konsumen, mereka adalah hal yang paling diutamakan pihak restoran. Jadi usaha dan karyawan dari pihak restoran memang dituntut untuk bekerja keras guna memuaskan konsumen.” jelasnya lagi.

Oh, ternyata begitu. Jadi itulah kenapa di beberapa lowongan restoran membeberkan syarat ‘bisa bekerja di bawah tekanan, mau bekerja sama, dan dapat bekerja dalam tim’, pikirku.

Kemudian aku mulai menjelaskan pada Jonn pengalamanku yang menemani Schatz melamar pekerjaan, dimana para atasan/pencari kerja langsung mundur ketika tahu jika Schatz adalah seorang mahasiswa.

“Iya, dimana-mana memang begitu. Mereka sebenarnya tahu jika mahasiswa itu terampil, tapi apakah waktunya siap dikorbankan untuk bekerja atau tidak. Apa mereka siap jika ketika dosen meminta perpindahan waktu kuliah dan itu bertabrakan dengan waktu kerja, mereka akan lebih memilih tetap pergi bekerja? Itulah kenapa sebenarnya kuliah sambil bekerja itu merepotkan. Dan atasan-atasan pun mulai takut untuk mengambil mahasiswa. Ada istilah dalam mempekerjakan mahasiswa yaitu gambling”.

Apa? Gambling?

Kenapa 'bertaruh'?? pikirku.

Ah yaa! 'Bertaruh'! Tentu saja.

Kemudian aku berbagi cerita kepada Jonn, tentang pengalaman Schatz yang dulu masih lebih mementingkan kuliah dibanding bekerja, aku berharap itu akan menjadi pelajaran besar baginya. Bahwa kuliah dan bekerja adalah dua hal yang berbeda dan tidak ada yang boleh dianaktirikan. Jonn mengerti betul karena posisinya adalah adik dari pemilik restoran.

Kemudian aku mempromosikan Schatz padanya, karena, jujur, aku mulai putus asa. Aku khawatir Schatz tidak akan mendapatkan pekerjaan dalam waktu dekat sedangkan tabungannya kian menipis.

Ternyata Jonn bisa membantu sedikit. Setelah memberikan kontak kakak laki-lakinya padaku, ia memberitahu kakaknya jika akan ada temannya yang ingin melamar pekerjaan di (sebut saja) JJ Resto & Cafe, restorannya. Dan sisanya aku serahkan langsung ke Schatz.

Schatz bertanya panjang lebar via Line dengan pemilik JJ Resto & Cafe, Bang Jeff. Bang Jeff pun menjelaskan dengan panjang lebar. Diakhir kata, Bang Jeff mempertimbangkan Schatz karena kebetulan ada satu pegawai yang ingin resign, namun Schatz tetap harus menunggu karena kejelasannya masih belum pasti kapan. Akhirnya Schatz dan aku kembali menunggu kabar darinya.

Keesokan harinya ternyata Schatz mendapat panggilan dari salah satu restoran yang pernah kami datangi untuk menaruh lamaran, sebut saja Wine&Dine Resto, tipe restoran yang menyediakan beraneka macam hidangan utama, hidangan pasta, nusantara, barat, makanan ringan, beer dan berbagai macam minuman yang sungguh menarik mata. Restoran ini memiliki dua lantai dimana lantai pertama bersifat kasual dan lantai kedua bernuansa Romantic Room, tipe lantai yang sangat ramai pada malam hari.  Dan tempat ini memiliki halaman parkir yang sangat luas. Letaknya juga berada di jalanan utama yang memiliki banyak pilihan tempat kuliner. Keunggulan-keunggulannya ini menjadikannya sebagai tempat yang diperhitungkan untuk disinggahi banyak pelanggan. Schatz diwawancarai langsung oleh sang pemilik. Setelah melewati sesi tanya-jawab, ternyata ia diterima, dan seperti biasa diminta untuk di-training dulu selama seminggu guna pengenalan menu. Karena seperti yang kita tahu, beda restoran, beda cara memasak!

Diakhir sesi sang pemilik sempat bercerita bahwa sebenarnya pernah ada beberapa mahasiswa yang bekerja di tempatnya dan sekarang menghilang begitu saja. Mereka tidak bisa diajak bekerja sama dan selalu menentang kebijakan yang sudah ditetapkan di restoran tersebut. Misalnya seperti ketika membuat menu Spaghetti Bolognese atau Nasi Goreng Ikan Asin, tahap pembuatannya adalah dari A-B-C-D-E. Namun mereka mengerjakannya dari D-E-B-C-A. Memang hasilnya akan sama-sama menjadi Nasi Goreng Ikan Asin, tapi pasti ada ciri khas yang disajikan dalam hidangan di restoran tersebut, dan itu tidak bisa diganggu gugat.

“Dapur 'tu bukan ranah publik yang bisa dikritik! Mentang-mentang mahasiswa jadi pengen nentang apa yang udah jadi kebijakan restoran. Kalo kita di masyarakat oke oke ajalah ngeritik suatu sistem yang ada. Lha ini kan di restoran! Kita tuh kerja sama orang, dan orang itu udah ada tata-caranya sendiri dalam ngejalanin restorannya.” Schatz mengungkapkan kekesalannya padaku hahaha. Aku pun makin yakin jika mahasiswa punya sisi buruk yang tidak begitu disukai oleh beberapa atasan di tempat kerja.

Selesai dari Wine&Dine Resto, Schatz diminta untuk mulai bekerja besok. Kami pun pulang dan mendiskusikan hal ini sebentar. Tapi ternyata Bang Jeff dari JJ Resto & Cafe kembali menghubungi Schatz dan memberi kepastian jika tenaganya dibutuhkan di JJ Resto & Cafe. Dan besok jika Schatz bisa, ia diminta untuk datang ke lokasi untuk langsung bertatap muka. Schatz setuju. Jadi kami akan pergi ke JJ Resto & Cafe besok sore.

JJ Resto & Cafe juga mempunyai 2 lantai. Lantai dasar adalah restorannya dan lantai 2 lebih bergaya seperti cafe dengan live musik. Tempat yang nyaman dengan banyak pilihan menu.

Apa? Besok?

Tunggu dulu!

Besok ‘kan Schatz sudah diminta untuk mulai bekerja di Wine&Dine Resto!

Aku dan Schatz pun berdebat sedikit. Aku memihak JJ Resto & Cafe karena aku memang pernah beberapa kali kesana bersama teman-teman sekolahku untuk berkumpul bersama Jonn (adik sang pemilik). Aku juga sempat beberapa kali mencicipi makanan dan minuman disana, tempatnya juga nyaman, pilihan menunya sangat sangat banyak sekali mulai dari hidangan nusantara hingga hidangan barat dan lain sebagainya. Kami berperang argumen soal kelebihan dan kekurangan dari masing-masing tempat, baik dari lokasi, wifi, jam kerja, gaji awal, hingga pertimbangannya jika bekerja disana dalam jangka panjang. Schatz sempat kekeuh untuk bertahan di Wine&Dine Resto, namun akhirnya ia berpihak pada JJ Resto & Cafe dan kembali menghubungi Bang Jeff. Aku tidak merasa menang karena ia akhirnya berubah pikiran dan mengambil saranku. Tapi aku tahu, tempat mana yang sangat cocok untuknya, karena aku sudah tinggal di kota ini selama 15 tahun (Schatz adalah pendatang dari pulau Jawa), dan yang paling penting adalah jam kerjanya tidak terlalu mengganggu waktu kuliah.

Besoknya, aku dan Schatz langsung ke lokasi dan bertemu dengan Bang Jeff. Karena beliau bisa dibilang masih berjiwa, dan memang masih, muda, jadi wawancara yang dilakukan terkesan lebih santai dan hanya seperti bertukar cerita saja.

Keputusan akhir pun dicapai. Schatz akan mulai bekerja di awal bulan Mei nanti, sekitar 5 hari lagi. Mungkin untuk memudahkan dalam perhitungan gaji atau bagaimana aku juga tidak tahu, begitulah kebijakan disana. Aku hanya berharap Schatz tidak akan berpindah tempat kerja lagi. Selain karena mencari pekerjaan (seperti koki) memang repot, tapi juga karena nilai ‘bekerja di satu tempat dalam waktu yang lama’ akan terlihat bagus dalam daftar riwayat pekerjaan.

Aku sangat berterima kasih atas informasi dari Jonn dan bantuan dari Bang Jeff, karena mau mendengar dan mengerti kondisi dan keadaan Schatz yang masih aktif kuliah. Tidak banyak restoran yang mau repot-repot mewawancarai pelamar yang masih berstatus mahasiswa, mereka akan lebih memilih untuk tidak menghubunginya sama sekali. Dan itu membuatku putus asa. Dan karenanya juga aku jadi mendapatkan banyak pencerahan soal ‘nama mahasiswa di mata pemilik modal, terutama dalam dunia kerja paruh waktu’.

Andai saja para mahasiswa itu bisa menjaga nama ‘mahasiswa’ yang dibawanya. Tapi tentu saja tidak semua mahasiswa seperti itu, tapi di lapangan faktanya memang, maaf, kebanyakan seperti itu. Kesulitannya adalah mahasiswa-mahasiswa yang benar-benar membutuhkan pekerjaan paruh waktu jadi harus melewati masa yang sulit dalam mencari pekerjaan.

Cerita ini hanya sedikit gambaran dari penelitian konyol yang aku lakukan selama sebulan lebih. Sebenarnya banyak sekali cerita-cerita yang diberikan para atasan restoran dan tempat kerja lainnya soal pandangan mereka terhadap mahasiswa dalam dunia kerja paruh waktu. Tapi tentu saja tidak semua mahasiswa seperti itu.

Pikiran-pikiran yang sudah kutampung selama itu mengantarkanku kepada jawaban 'apa yang harus aku lakukan untuk melewati masalah ini'. Dan itu menyenangkan.

Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk membaca tulisan yang tidak terlalu bagus ini hahaha. Sekian.

Ttd.

Risgaan

P.S.

Nama dan tempat disamarkan untuk menjaga kepentingan umum. Terima kasih banyak kepada pihak-pihak yang sudah terlibat.

Biaya Hidup di Kota Pontianak 2021

(Foto: Tugu Khatulistiwa, Pontianak. Source: kanalwisata.com) P ontianak adalah ibu kota provinsi dari Kalimantan Barat, Indonesia. Kota ini...